Minggu, 16 Februari 2014

Besi dan Al-Qur'an

الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Rahasia Besi Dalam Al-QuranBesi adalah salah satu unsur yang dinyatakan secara jelas dalam Al Qur'an. Dalam Surat Al Hadiid, yang berarti "besi", kita diberitahu sebagai berikut :

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

Artinya : "…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ...." (QS Al-Hadiid : 25)

Kata "anzalnaa" yang berarti "kami turunkan" khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni "secara bendawi diturunkan dari langit", kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki keajaiban ilmiah yang sangat penting.

Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.

Rahasia Besi Dalam Al-QuranLogam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut "nova" atau "supernova". Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.

Rahasia Besi Dalam Al-QuranSemua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan "diturunkan ke bumi", persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur'an diturunkan.

# Sumber
keajaibanalquran.com

Islamisasi Fisika

Islamisasi secara bahasa adalah pengislaman atau menjadikan islam. Jadi yang kami maksudkan dengan islamisasi soal fisika adalah dalam penulisan soal-soal fisika kita menggunakan kalimat/kata yang berhubungan dengan islam. Bisa diambilkan dari Al Qur'an, Hadits, sejarah islam, de el el. Sebagai contoh, sering kita menjumpai soal fisika seperti ini: 
Sebuah benda bergerak dengan kecepatan 30 m/s dalam waktu 2 menit. berapakah jarak yang ditempuh selama waktu tersebut?

Proses islamisasi soal diatas yang saya maksud bisa kita ubah seperti ini:

Ahmad dari rumahnya menuju masjid untuk sholat berjamaah mengendarai sepeda dengan kecepatan 30 m/s. Dalam waktu 2 menit, Ahmad sampai di masjid. Tentukan Jarak rumah Ahmad dengan masjid?

Tentunya dalam membuat soal fisika tidak bisa semua materi bisa kita islamisasikan. Karenanya kita harus cermat setiap membuat soal, sekuat tenaga dan pikiran berusaha untuk menyisipkan nilai-nilai keislaman. Apabila mentok yaaa.....gimana lagi. hehehehe......, Berikut contoh soal yang saya buat, untuk materi GELOMBANG:


1. Perhatikan terjemah QS. Al- Baqarah: 19-20: 19. ” atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir”. 20. ‘Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”.

Petir adalah fenomena alam yang terjadi akibat adanya bunga api di awan dengan energi yang sangat besar sehingga menimbulkan panas, rentetan cahaya dan bunyi yang sangat kuat. 
a. Termasuk gelombang apakah bunyi (suara) itu? Jelaskan! 
b. Termasuk gelombang apakah cahaya itu? Jelaskan! 
c. Saat kita mengamati terjadinya petir, ada dua macam indra yang kita libatkan, yaitu penglihatan untuk mengamati kilatan cahaya dan pendengaran untuk mendengar bunyi petir. Mengapa kilatan cahaya selalu tampak lebih dulu terjadi daripada bunyi petirnya? Jelaskan!

2. Nabi Shallallahu'alaihi wasallam bersabda; "Akan muncul di kalangan umat ini -dan ia tidak mengatakan dari umat ini- suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian bila dibandingkan dengan shalat mereka, mereka membaca al Qur`an namun tidak melewati kerongkongan atau tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya, lantas sang pelempar melihat anak panahnya, mata panahnya hingga kain panahnya, hingga seolah-olah anak panah itu keluar dalam tempat senar, apakah ada darah yang menempel?" HR. Bukhari. 

Sebuah senar atau dawai mempunyai panjang 60 cm digetarkan dan terdengar nada dasar dengan frekuensi 300 Hz. Hitunglah cepat rambat gelombang dalam senar atau dawai tersebut? 

3. Harits bin Hisyam pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Bagaimana caranya wahyu datang kepada Anda?" Jawab beliau: "Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Itulah yang paling berat bagiku. Kemudian bunyi terputus, sedangkan aku telah memahami maksudnya. Terkadang malaikat datang menyerupai bentuk laki-laki, lalu aku memahami apa yang dikatakannya." HR.Muslim.

Jika intensitas bunyi sebuah lonceng sebesar 10-3 W/m2. Tentukan:
a. Taraf intensitas bunyi lonceng tersebut 
b. Taraf intensitas dari 100 loceng yang identik jika dibunyikan bersama-sama

 4. QS. Az Zumar: 68: ‘dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”. 

Usamah Bin Zaid dalam keadaan diam meniup sangkakala (terompet) dengan frekuensi 1320 Hz. Seseorang sahabat berlari dengan kecepatan 10 m/s. Jika cepat rambat bunyi di udara330 m/s, tentukan frekuensi yang didengar sahabat tersebut jika:
a. Berlari mendekati Usamah Bin Zaid
b. Berlari menjauhi Usamah Bin Zaid (skor: 3) 

Islmaisasi soal bukan hanya bisa diterapkan dalam soal fisika saja, tetapi untuk soal mata pelajaran lain. AYO KITA COBA !!!

Konsep Islamisasi Sains yang Keliru

Konsep Islamisasi Sains yang Keliru

Seorang teman yang tampaknya tengah terobsesi dengan Islamisasi ilmu pengetahuan pernah menanyakan mengapa dalam makalah-makalah ilmiah saya tidak pernah tercantum ayat-ayat Alquran. Tampaknya ia meyakini bahwa mencantumkan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan dalam makalah ilmiah merupakan salah satu upaya Islamisasi ilmu pengetahuan.

Dalam makalah ilmiah ilmu sosial yang mengkaji perilaku manusia mungkin saja rujukan ayat-ayat Alquran tercantum, karena itu merupakan bagian dari sistem nilai manusia yang mungkin sedang dikajinya. Dalam hal ini rujukan-rujukan dari sumber Islami merupakan hal yang sahih dan sangat dianjurkan bagi para pakar Islam. Itu merupakan salah satu upaya Islamisasi ilmu sosial yang mungkin telah banyak diwarnai sistem nilai non-Islam.

Namun, dalam hal sains yang mengkaji perilaku alam, tepatkah ayat-ayat Alquran dijadikan rujukan dalam analisis ilmiahnya? Atau secara umum, perlukah Islamisasi sains?

Ketika saya menulis skripsi untuk mendapatkan sarjana astronomi di ITB tentang gugusan bintang-bintang muda di galaksi Bimasakti yang mengindikasikan bidang galaksi melengkung, kutipan ayat Alquran (Q.S. 3:191-192 tentang pentingnya merenungi alam semesta dan Q.S. 85:1 tentang pentingnya memperhatikan gugusan bintang) hanya saya cantumkan di halaman depan skripsi, tidak masuk dalam makalah utamanya. Alquran menjadi landasan iman dalam mengkaji ayat-ayat Allah di alam semesta, tetapi tidak mungkin dijadikan rujukan untuk memperkuat argumentasi saintifiknya.

Mengapa tidak mungkin? Ada contoh sederhana untuk menjawabnya. Ketika menyusun desertasi S3 di Jepang yang mengkaji tentang pembentukan bintang, dengan sengaja saya menuliskan kalimat pasif yang secara implisit mengandung pengertian "bintang dibentuk", bukan terbentuk sendirinya. Artinya ada peran Allah sebagai khaliq. Tetapi profesor pembimbing saya mencoretnya dan mengganti kalimatnya sehingga lebih netral, tanpa nuasa konflik keyakinan ada tidaknya Tuhan pencipta alam. Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa dalam sains, argumentasi ilmiah harus sepenuhnya berpijak pada landasan yang dapat diterima bersama, apa pun agamanya.
Islamisasi Sains?

Ketika semangat Islamisasi ilmu pengetahuan muncul di Pakistan pada masa Presiden Zia ul Haq pada awal 1980-an, Bashiruddin Mahmood, Direktur Direktorat Energi Nuklir Pakistan bersama teman-temannya segera menyambutnya dengan dengan mendirikan "Holy Quran Research Foundation". Salah satu hasil kajiannya berupa buku "Mechanics of the Doomsday and Life after Death: The Ultimate Fate of the Universe as Seen Through the Holy Quran" (1987).

Sayang, obsesinya untuk mengislamisasi sains tampaknya tidak mempunyai pijakan. Fenomena penciptaan dan kehancuran alam semesta yang katanya ditinjaunya dari Alquran dianalisisnya tanpa menggunakan sains secara utuh. Hasilnya, banyak kejanggalan dari segi saintifiknya. Di Indonesia, publikasi serupa itu ada juga, misalkan oleh Nazwar Syamsu dan Fahmi Basya.

Semangat Islamisasi sains di Pakistan yang dirasakan telah salah arah, menimbulkan kritik tajam dari Dr. Pervez Hoodbhoy, pakar fisika partikel dan nuklir dari Quaid-e-Azam University, Islamabad. Atas saran Prof. Abdus Salam (Penerima hadiah Nobel Fisika 1979), Hoodbhoy memaparkan kritik-kritiknya atas upaya Islamisasi sains di Pakistan dalam bukunya "Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality" (1992). Baik Hoodbhoy maupun Salam sepakat bahwa upaya Islamisasi Sains yang dimotori Presiden Zia ul Haq telah salah langkah dan memalukan.

Secara spesifik, Hoodbhoy mengkritik beberapa kajian yang oleh para pemaparnya -- di beberapa konferensi tentang Alquran dan sains -- dianggap sebagai sains Islam. Kajian-kajian yang dikritik tajam itu antara lain tentang formulasi matematis tingkat kemunafikan, analisis isra' mi'raj dengan teori relativitas, jin yang terbuat dari api sebagai energi alternatif, dan formula kuantitatif pahala salat berjamaah sebagai fungsi dari jumlah jamaah.

Sebenarnya, adakah sains Islam? Dan perlukah Islamisasi sains? Untuk menjawabnya, kita kembali mengkaji lebih dalam lima ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah s. a. w. dan kita fahami prinsip dasar sains.

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajar manusia hal-hal yang belum diketahuinya (Q. S. Al-Alaq:1-5).

Dalam makna yang umum, lima ayat yang turun pertama kali ini tentunya bukan hanya perintah kepada Rasulullah s. a. w. untuk membaca ayat-ayat qur'aniyah. Terkandung di dalamnya makna untuk membaca ayat-ayat kauniyah yang terdapat di alam. Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk itu.

Manusia yang diciptakan dari substansi serupa gumpalan darah telah dianugerahi Allah dengan kemampuan analisis untuk mengurai rahasia-rahasia di balik semua fenomena alami. Kompilasi pengetahuan manusia kemudian didokumentasikan dan disebarkan dalam bentuk tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini melahirkan sains dalam upaya menafsirkannya. Ada astronomi, matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.

Dari segi esensinya, semua sains sudah Islami, sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan adalah hukum-hukum alam yang tunduk pada sunnatullah. Pembuktian teori-teori yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains kesalahan adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusiawi, tetapi kebohongan adalah bencana.

Hukum konservasi massa dan energi yang secara keliru sering disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi sering dikira bertentangan dengan prinsip tauhid. Padahal itu hukum Allah yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?

Demikian juga tetap Islami sains yang menghasilkan teknologi kloning, rekayasa biologi yang memungkinkan binatang atau manusia memperoleh keturunan yang benar-benar identik dengan sumber gennya. Teori evolusi dalam konteks tinjauan aslinya dalam sains, juga Islami bila didukung bukti saintifik. Semua prosesnya mengikuti sunnatullah, yang tanpa kekuasaan Allah semuanya tak mungkin terwujud.

Jadi, Islamisasi sains sungguh tidak tepat. Menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan, yang sering dianggap salah satu bentuk Islamisasi sains, juga bukan pada tempatnya. Dalam sains, rujukan yang digunakan semestinya dapat diterima semua orang, tanpa memandang sistem nilai yang dianutnya. Tegasnya, tidak ada sains Islam dan sains non-Islam.

Hal yang pasti ada hanyalah saintis Islam dan saintis non-Islam. Dalam hal ini sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak akan tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang tercermin dalam pemaparan yang bersifat populer atau semi-ilmiah.

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Maka, riset saintis Islam berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya karena-Nya pokok pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkapkan satu mata rantai rahasia alam semestinya disyukurinya dengan ungkapan "Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa, Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia" (Q. S. 3:191), bukan ungkapan bangga diri.
T. Djamaluddin
Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung.

Gempa dalam pandangan Islam

Sabtu, 15 Februari 2014

Sedekah 1 juta dibalas 1 Milyar

Cerita Ustadz Yusuf Mansur:

Salah satu kenangan indah dari acara @Yusuf_Mansur di TV, adalah lahirnya seorang milyarder baru dari tengah-tengah pemirsa. IS, begitu inisialnya. Adalah seorang pedagang nasi di salah satu sudut kota, di Jawa Timur. Bersama istrinya, Ia menyaksikan acara saya. Saat itu, awal Januari 2007. IS dan istrinya mengikuti dengan seksama pembahasan Matematika Sedekah. “Siapa yg memberi 1, dibalas Allah 10x lipat.” Kata saya saat itu menyeru pemirsa. Lewat layar kaca, “Siapa yg percaya, keluarkan sekarang juga. Selasa besok ketemu saya lagi, begitu saya menyeru, dah akan diganti 10x lipat.” Acaranya saat itu, selasa sore. Namanya: Cerita Sore. Di antara jutaan pemirsa, ada IS dan istrinya. Di tangan mereka, ada dana 1 juta. IS melongo mendengar seruan ini. 1 juta jadi 10 juta? Ya, dia ga salah dengar. Siapa yang sedekah 1  akan dibalas 10 kali. Dan ini janji Allah. Jadi kalo dia punya 1 juta, ya jadi 10 juta. Kalimat “Selasa depan ketemu saya (di layar kaca), bakal diganti Allah 10x lipat” itu menggoda dia.
Bukannya apa-apa. Dari awal Januari 2006 s/d akhir Desember 2006, IS dan istrinya ngumpulin duit. Buat bayar kontrakan. 1,4 juta. Sayangnya, setahun “hanya” terkumpul 1 juta, masih kurang 400 ribu. Di kontrakan inilah warung nasinya berdiri. Pemilik kontrakan menolak menerima uang 1 juta. “Saya kasih waktu 2 bulan lagi. Bayar full saja nanti.” Dan itu berarti ada waktu s/d akhir Februari.Nah, di awal Januari 2007, lewat TV, IS dan istrinya mendengar seruan untuk bersedekah tadi.
“Bu, denger kata Ust Yusuf ?” ujar IS.
“Denger.” Kata istrinya.
“Ayo Bu… Kita sedekahin duit kita yg 1 juta ini… Nanti kita akan punya uang 8,6 juta…”
Ada yg tau, kenapa jadi 8,6 juta? Ya, sebab sedekah 1 juta jika diganti 10x lipat, akan jadi 10jt. Lalu untuk kontrakan 1,4 juta, masih ada sisa 8,6 juta. Hanya dalam sepekan akan berbalas. Bandingkan dengan tabunganya selama setahun (1 juta). Emang kalo pake sedekah, jadi QuantumSaving. Alhamdulillaah, istrinya MENOLAK ajakan IS ini, he he… “Ga ah… Itu kalo dibayar Allah… Kalo engga?” Di benak istrinya, sedekah 1 juta tabungan dia ini beresiko. Setahun ngumpulin 1 juta, masa sepekan jadi 10 juta.

Kata istrinya, “Kalo tadi kurang 400 ribu, ini kurangnya jadi balik lagi. Kurang 1,4 juta…”

Namun IS mendorong istrinya untuk percaya. “Bu… Ini Janji Allah. Bukan janjinya Yusuf Mansur.”
Kisah ini sampai ke tangan saya, akhir Desember-an 2007. Dibawa oleh seorang wartawan Surabaya, yang mengisahkan kisah IS ini.Wartawan ini bercerita tentang IS, sambil membawa undangan IS buat saya. Agar saya mau meresmikan pabrik yg dibangun IS.
“IS seorang pedagang nasi, yang di awal Januari 2007 ribut kecil sama istrinya soal keyakinan sedekah, bangun pabrik?” gumam saya.

Betul. Si wartawan ini terus berkisah. Pabrik itu nilainya
11 milyar!!! Subhaanallaah…


Awal Jan 2007, istri IS merelakan suaminya yang bersikeras untuk menyedekahkan seluruh uang yg mereka punya (1 juta itu tadi). Dengan resiko, ga dibayar Allah. Tapi besar hati IS. Ga mungkin Allah ga akan menunaikan Janji-Nya. IS dan istrinya, tunaikan sedekah. Selasa sore acara Cerita Sore di TV. Selasa malam uang itu tertunai. Habis. Rabu pagi IS nunggu Allah datang. Manaaaa nih Allah… Mana 10 juta yg dijanjikan-Nya??


Sampe sini, banyak orang yg tidak sependapat dengan Yusuf Mansur. “Tuh kaaaaannn… Orang jadi ngarepin balesan… Ga ikhlas…” Kalau Saya mah beda. Jika sebelumnya IS dan kita-kita ini, ga pernah berharap Allah datang. Ini berharap Allah untuk datang. Top kan?
:)


Orang jg blg, “Tar kecewa loh, kalo nanti sedekah ga brbalas.” Laaaahhh, jajal aja beloman, darimana tahunya bakal kecewa??


IS menunggu dengan setia sampe Allah mau datang. Namun hingga selasa berikutnya saya nongol lagi di TV, Allah “ga datang”. Waktu Saya nongol di TV, istrinya bilang, “Tuh, ustadz Kamu… 1 juta jadi 10 juta. Seminggu… Mana…?” IS bingung… Tambah bingung karena materi saya di TV pekan kedua Januari, udah berubah. Udah ga bicara yang kemarenan lagi.

IS membesarkan hatinya dan hati istrinya. “Allah tau kali… Kita butuhnya akhir Februari… Masih ada 7 minggu…”

Pekan ke-3, pekan ke-4, IS menunggu Janji Allah datang. Hingga pekan ke-5. Januari berubah jadi Februari.

“Pak,” kata istrinya IS, “Coba gih, cari nomornya itu TV…”
“Untuk apa…?” Tanya IS.
“Minta nomornya Yusuf Mansur… Suruh dia tanggung jawab. Katanya sepekan. Ini udah 5 minggu. Belum ada tanda-tandanya Allah bakal ganti…”

Alhamdulillah, IS dan istrinya ga dapet tuh nmr saya,
:D


Maret atau April 2008, di bandara Juanda Surabaya, saya dan istri saya bertemu dengan IS dan istrinya. Kisah ini sekarang keluar dari mereka.


Minggu ke-7, atau 1 minggu lagi jelang deadline bayar kontrakan, istrinya mengajak IS ke bapaknya. Untuk pinjam uang.

IS cerita ke saya dan istri saya, “Saya ga mau memenuhi permintaan istri saya pinjem ke mertua…”
“Bukannya apa. Mertua saya itu supir. Gajinya 600rb. Kayak apa beliau kalau tahu saya sedekah 1 juta. Trus sekarang saya mau pinjem uang ke beliau…”
IS memutuskan ga mau pinjam. Istrinya terus membujuk IS agar mau pinjam ke bapak mertuanya. “Kalau ga pinjam uang, nanti kita diusir Pak… Di sini ada warung kita.” kata istri IS. Dengan gagah IS bilang, “Biar aja diusir… Biar Allah tau… Gara-gara sedekah 1 juta, kita diusir…”
IS bilang ke istrinya di pekan ke-7 tersebut, “Bu, daripada kita mikirin kontrakan terus, kita keluar yuuuukkk… Kita cari rumah di sekitar sini yang mau dijual. Kita beli. Tar kalo kita diusir dari kontrakan kita, kita pindah ke rumah yang kita beli itu”
Istrinya IS cerita ke saya, “Ya Allah Ustadz… Saya sedih… Kok suami saya jadi begini.. :(Gimana coba? Wong buat bayar kontrakan aja ga ada, kok ya mau beli rumah? Tp karena saya jg stress, ya saya manut…”
Istrinya tak menduga, kalo IS benar-benar nawar 1 rumah. Di depan sebuah rumah mewah, IS dan istrinya berdiri… “Assalamu’alaikum… Betul rumah ini dijual?” Pemilik rumah melihat mereka berdua. Wajah di pekan ke-7 itu, lusuh. Wajah kontrakan. Wajah yang sepekan lg diusir.
“Betul,” kata pemilik rumah. “Buat siapa?”
IS menjawab, “Buat kami…”. Disuruh masuklah mereka berdua. Istrinya ga mau. Percuma. Ga bakal kebeli. Namun IS tetap masuk. Mau ga mau istrinya ikut.
“Berapa duit ni rumah Pak…?”
“700 juta…”
Ketika ngedenger ini rumah 700 juta, JELEGGGEEEERRRR…!!! Istrinya IS kontan mau bangun… Mau pulang aja. Tapi IS malah nawar… “Kalo 500 juta gimana…?” Istri IS terperanjat… 500 juta…? Uang darimana…???
“Kalo segitu ga bisa. Udah ada yg nawar lebih…”.
“Kalo 600 juta…?” tawar IS lagi.
“Kalo 600 juta, boleh. Kapan Bapak mau kasih tanda jadi?”
“Ga pake tanda2 jadian. Nanti saya ke sini aja, 2 bulan lagi…” kata IS meyakinkan.
“Ya ga bisa Pak kalo ga ada Tanda Jadi.”
IS meyakinkan pemilik rumah bahwa dia bakal balik lagi. “InsyaAllah…!!!”, katanya mantab.
“Kalo gitu, saya minta nomor hp bapak dah…”
“Saya ga ada HP…”, jawab IS. Pemilik ini heran. Tanda jadi ga ada, HP juga ga ada. Ya sudah…
Kalau pemilik rumah heran. Istrinya IS lebih heran lagi!!! Guendeng nih suamiku… Pake nawar 600 juta, janji 2 bulan lagi…!!!
Di depan rumah ini, istrinya IS nyubit suaminya, “1,4 juta aja ga punya… Pake nawar rumah orang 600 juta. Ngejanjiin 2 bulan lagi.”
IS bilang, “Bu, kita kan dijanjiin sama Allah, akan dibayarin 10x lipat dalam waktu seminggu. Ini udah 7 minggu Bu…”
“Kalo nanti dibayar sama Allah akhir Februari ini, tapi masih 10x lipat, jangan mau. Bapak mau bilang sama Allah, bayar Bapak 700x lipat saja. Nanti nih Bu, kalau dibayar sama Allah 700x lipat, kita bayar dah rumah ini 600 juta. Sisanya buat ngegedein warung kita…”
“Bapak malam ini mau bangun malam. Mau bilang sama Allah, urusan kontrakan urusan Bapak saja. Urusan Allah yang 700x lipat. Dan Bapak mau ngasih waktu lagi sama Allah. Bayar Bapak 2 bulan lagi!”. Istrinya IS bertambah bengongnya…
Alhamdulillaah, Allah emang ga pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Pekan ke-8, IS dan istrinya, DIUSIR… Ya, diusir dari kontrakan. Sampe akhir Februari, sesuai deadline, IS ga punya duit 1,4 juta untuk bayar kontrakan. Alhamdulillaah, akhirnya IS dan istrinya dengan sukses diusir.
Kalo ceritanya berhenti sampe sini, menanglah mereka yang menganggap bahwa ga boleh berharap sama Allah, sebab pasti kecewa. Sebagiannya lagi akan mengutuk saya, sudah membuat satu keluarga jadi berantakan usahanya. Tadinya punya warung, sekarang malah terusir.

Tapi cerita terus bergulir…

IS dan istrinya pindah ke pasar pengungsi. Di Jawa Timur kala itu sedang ada 1 musibah nasional. Ada begitu banyak pengungsi. IS buka warung di sana. Ga ada yang menyangka, kisah saksesnya berawal dari sini. Beberapa wkt kemudian, ada yang nawarin untuk menangani katering bagi pengungsi. Dibawalah IS ke pimpronya. Dan diputuskan IS yang ngelola katering untuk pengungsi
“Sanggup Bapak ngelola?” Dijawab IS, “Sanggup. Asal dananya di depan.” “Ya. Di depan.”
IS nanya, “Berapa pengungsi yang mesti saya siapkan makanannya?”
“16 ribu pengungsi…”.
IS cerita di hadapan kami-kami, saat beliau jadi tamu kehormatan di launching pondok dan MDN (Majelis Dhuha Nasional) 14 Juni 2008, “Saya mau pingsan…” ujarnya.
“Ngedengerin 16 ribu pengungsi yang kudu disiapin makan, saya mau pingsan rasanya…. Belom pernah saya bikin sebanyak itu.. Apalagi pimpro ini mengatakan, “3x makan. Pagi, siang, malam. 48 ribu bungkus untuk sehari”
Jreng jreng jreng… Sedekah IS dan istrinya was working..
2 bulan nanganin katering tersebut, cash on hand, 1 Milyar rupiah. Subhaanallaah… Dia bisa bayar itu rumah 600 juta. Persis 2 bulan kurang lebihnya dari apa yang ia janjikan kepada si pemilik rumah. Allah Bercanda sama 2 hamba-Nya ini. :)
100 jutanya dipake buat ngegedein warungnya. Persis seperti apa yg ia katakan sama istrinya 2 bulan yang lalu. Yang membedakan IS dengan kita adalah, IS pas dpt 1000x lipat bilang “Saya minta kan 700x lipat. Jadi, yang 300x lipat bukan milik kami.” Sedekah awal Januari, berbuah April. April, IS dan istrinya sedekah kurang lebih 300 juta. Merdeka tuh. Karena banyak, jadi macem-macem sedekahnya.
Sedekah 300 juta di April, berbuah kontrak senilai 38 Milyar untuk kontrak katering sepanjang 2008. Karena itulah dia membangun pabrik senilai 11 Milyar untuk menangani proyek itu. Subhaanallaah……

Sumber:

http://ayo-wirausaha.blogspot.com/2011/12/sedekah-satu-juta-dibalas-satu-milyar.html

Jumat, 14 Februari 2014

Ilmuwan Ukraina masuk Islam

Syahida.com - Dmitry Polakov adalah ilmuwan Fisika yang berasal dari Ukraina. Sejak 8 tahun lalu pria berusia 38 tahun ini telah memeluk Islam. Semua karena eksperimen yang dia lakukan terkait tanda-tanda munculnya kiamat, yaitu terbitnya matahari dari Barat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. Apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua manusia akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelum itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dmitry Polakov menjelaskan dari kacamata ilmu pengetahuan mengenai teori terjadinya matahari terbit dari Barat.
Berikut ini adalah penjelasan Dmitry Polakov yang diwawancarai oleh Nadila Fitria dalam acara Jazirah Islam bertema “Islam di Ukraina” yang ditayangkan oleh stasiun TV Trans 7 tanggal 30 Juli 2013 pukul 05.15 WIB:
Dmitry Polakov:
Saya memeluk Islam karena hadits yang menyatakan Allah punya gerbang pengampunan. Dan gerbang pengampunan itu terbuka sampai sakaratul maut dan hingga matahari terbit dari barat.
Saya punya teman bernama Ivan. Kami berdua meneliti tentang mengapa bumi berputar pada porosnya. Selain bumi, tidak ada planet lain yang berputar pada porosnya. Tapi kami tahu ini bisa berubah. Kami cari di internet mengenai bukti bumi bisa berputar sebaliknya.
Pada Islam, saya menemukan hadits seperti itu. Saya penasaran dan saya mulai belajar tentang Islam.
Kita punya matahari, dan kita punya bumi yang lebih kecil. Matahari tidak hanya memancarkan cahaya ke bumi, tapi juga mengirim solar wind (angin matahari). Semuanya datang ke bumi. Bumi kita mempunyai medan magnet. Angin matahari ini, ketika mencapai bumi akan memisahkan proton dan elektron.
Tetapi, seperti saya bilang, posisi kutub utara dan kutub selatan tidak diam di satu tempat, melainkan selalu berubah-ubah. Sekarang posisi kutub utara telah bergeser ke arah Rusia. Sekitar tahun 2002, jika saya tidak salah, posisi kutub utara berada di sekitar Kanada.
Kebudayaan kuno Cina sudah mengetahui akan hal ini. Columbus juga mengetahuinya. Akan datang masa, ketika kutub utara dan selatan bertukar tempat. Efeknya, rotasi bumi akan berputar ke arah yang berlawanan. Jadi suatu saat hal itu akan terjadi. Tetapi kapan terjadinya, wallahu’alam. Tetapi Nabi Muhammad SAW bersabda, “di saat seperti itulah pintu taubat akan ditutup”.
Nadila Fitria:
Sebelum Anda memeluk Islam, apakah Anda percaya dengan kiamat?
Dmitry Polakov:
Tidak.
Nadila Fitria:
Mengapa Anda tidak percaya?
Dmitry Polakov:
Masyarakat di sini berpikir, “ini agama, dan ini ilmu pengetahuan” (sambil menunjukkan tangan kiri dan tangan kanan terpisah di kiri kanan). Artinya, keduanya tidak dapat berdampingan. (Akibatnya) jika saya ilmuwan, saya harus jauh dari agama. Jika saya agamawan, saya harus jauh dari ilmu pengetahuan. Tapi dalam Islam, agama dan sains (ilmu pengetahuan) bisa bergandengan. Itulah sebabnya saya suka Islam. Sebab Islam membuat saya bisa meneliti.
Saat Anda meneliti, Anda akan mengerti kekuasaan Allah.
Saya memberitahu teman-teman tentang studi Al-Quran ini. Tapi mereka orang-orang Soviet lama. Pola pikir mereka masih seperti Soviet. Mereka hanya bilang, “Wow keren. Bisa terbukti ya”.
Ketika saya memeluk Islam karena teori itu, saya berhenti mempublikasikannya. Sebab di sini banyak orang tidak percaya pada agama. Jadi biarkan orang menemukan jalannya sendiri.
indojilbab-468-60